Berbenah Diri Menyambut Bulan Ramadhan
·
2 August
2010, 10:00 am
Allah Ta’ala telah mengutamakan sebagian waktu
(zaman) di atas sebagian lainnya, sebagaimana Dia mengutamakan sebagian manusia
di atas sebagian lainnya dan sebagian tempat di atas tempat lainnya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ
لَهُمُ الْخِيَرَةُ
“Dan Rabbmu
menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan
bagi mereka” (QS
al-Qashash:68).
Syaikh
‘Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata, “(Ayat
ini menjelaskan) menyeluruhnya ciptaan Allah bagi seluruh makhluk-Nya,
berlakunya kehendak-Nya bagi semua ciptaan-Nya, dan kemahaesaan-Nya dalam
memilih dan mengistimewakan apa (yang dikehendaki-Nya), baik itu manusia, waktu
(jaman) maupun tempat”[1].
Termasuk
dalam hal ini adalah bulan Ramadhan yang Allah Ta’ala utamakan dan istimewakan dibanding
bulan-bulan lainnya, sehingga dipilih-Nya sebagai waktu dilaksanakannya
kewajiban berpuasa yang merupakan salah satu rukun Islam.
Sungguh
Allah Ta’ala memuliakan bulan yang penuh berkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu
musim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak, yang merupakan
kesempatan bagi hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa untuk berlomba-lomba
dalam melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya[2].
Bagaimana Seorang Muslim Menyambut Bulan
Ramadhan?
Bulan
Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, padanya dilipatgandakan amal-amal
kebaikan, disyariatkan amal-amal ibadah yang agung, di buka pintu-pintu surga
dan di tutup pintu-pintu neraka[3].
Oleh karena
itu, bulan ini merupakan kesempatan berharga yang ditunggu-tunggu oleh
orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan ingin meraih ridha-Nya.
Dan karena
agungnya keutamaan bulan suci ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam selalu
menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatradhiyallahu ‘anhum akan kedatangan bulan yang penuh
berkah ini[4].
Sahabat yang
mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, “Telah datang
bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya,
pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para
setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul
qadr) yang lebih
baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan)
kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang
agung)”[5].
Imam Ibnu
Rajab, ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata, “Bagaimana mungkin orang
yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana
mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada
Allah Ta’ala) tidak
gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang
berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?”[6].
Dulunya,
para ulama salaf jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan berdoa dengan
sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala agar mereka mencapai bulan yang
mulia ini, karena mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang
yang dianugerahi taufik oleh Alah Ta’ala. Mu’alla bin al-Fadhl berkata,
“Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah
mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya
(selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang
mereka (kerjakan)”[7].
Maka
hendaknya seorang muslim mengambil teladan dari para ulama salaf dalam menyambut
datangnya bulan Ramadhan, dengan bersungguh-sungguh berdoa dan mempersiapkan
diri untuk mendulang pahala kebaikan, pengampunan serta keridhaan dari Allah Ta’ala, agar di akhirat kelak mereka akan
merasakan kebahagiaan dan kegembiraan besar ketika bertemu Allah Ta’ala dan mendapatkan ganjaran yang
sempurna dari amal kebaikan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Orang yang
berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka
puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah”[8].
Tentu saja
persiapan diri yang dimaksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam
makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas
dendam ketika
berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara Televisi yang
lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Allah Ta’ala dari pada manfaat yang diharapkan,
itupun kalau ada manfaatnya.
Tapi persiapan yang dimaksud di sini adalah
mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan
ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu
dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan
sunnah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena balasan kebaikan/keutamaan
dari semua amal shaleh yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, tergantung
dari sempurna atau kurangnya keikhlasannya dan jauh atau dekatnya praktek amal
tersebut dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[9].
Hal ini
diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, “Sungguh
seorang hamba benar-benar melaksanakan shalat, tapi tidak dituliskan baginya
dari (pahala kebaikan) shalat tersebut kecuali sepersepuluhnya,
sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya,
seperempatnya, sepertiganya, atau seperduanya”[10].
Juga dalam
hadits lain tentang puasa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Terkadang
orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar dan
dahaga saja”[11].
Meraih Takwa dan Kesucian Jiwa dengan Puasa Ramadhan
Hikmah dan
tujuan utama diwajibkannya puasa adalah untuk mencapai takwa kepada Allah Ta’ala[12], yang hakikatnya adalah kesucian
jiwa dan kebersihan hati[13]. Maka bulan Ramadhan merupakan
kesempatan berharga bagi seorang muslim untuk berbenah diri guna meraih takwa
kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ
الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah:183).
Imam Ibnu
Katsir berkata, “Dalam ayat ini Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang yang
beriman dan memerintahkan mereka untuk (melaksanakan ibadah) puasa, yang
berarti menahan (diri) dari makan, minum dan hubungan suami-istri dengan niat
ikhlas karena Allah Ta’ala (semata), karena puasa (merupakan
sebab untuk mencapai) kebersihan dan kesucian jiwa, serta menghilangkan
noda-noda buruk (yang mengotori hati) dan semua tingkah laku yang tercela”[14].
Lebih
lanjut, Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan unsur-unsur takwa yang
terkandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:
- Orang yang
berpuasa (berarti) meninggalkan semua yang diharamkan Allah (ketika berpuasa),
berupa makan, minum, berhubungan suami-istri dan sebagainya, yang semua itu
diinginkan oleh nafsu manusia, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan
mengharapkan balasan pahala dari-Nya dengan meninggalkan semua itu, ini adalah
termasuk takwa (kepada-Nya).
- Orang yang
berpuasa (berarti) melatih dirinya untuk (merasakan) muraqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah Ta’ala), maka dia meninggalkan apa yang
diinginkan hawa nafsunya padahal dia mampu (melakukannya), karena dia
mengetahui Allah maha mengawasi (perbuatan)nya.
-
Sesungguhnya puasa akan mempersempit jalur-jalur (yang dilalui) setan (dalam
diri manusia), karena sesungguhnya setan beredar dalam tubuh manusia di tempat
mengalirnya darah[15], maka dengan berpuasa akan lemah
kekuatannya dan berkurang perbuatan maksiat dari orang tersebut.
- Orang yang
berpuasa umumnya banyak melakukan ketaatan (kepada Allah Ta’ala), dan amal-amal ketaatan merupakan
bagian dari takwa.
- Orang yang
kaya jika merasakan beratnya (rasa) lapar (dengan berpuasa) maka akan
menimbulkan dalam dirinya (perasaan) iba dan selalu menolong orang-orang miskin
dan tidak mampu, ini termasuk bagian dari takwa[16].
Bulan
Ramadhan merupakan musim kebaikan untuk melatih dan membiasakan diri memiliki
sifat-sifat mulia dalam agama Islam, di antaranya sifat sabar. Sifat ini sangat
agung kedudukannya dalam Islam, bahkan tanpa adanya sifat sabar berarti iman
seorang hamba akan pudar. Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan
beliau, “Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba)
adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia
hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya”[17].
Sifat yang agung
ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah
termasuk kesabaran. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam hadits
yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahrush shabr (bulan kesabaran)[18]. Bahkan Allah menjadikan ganjaran
pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas[19], sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, “Semua amal
(shaleh yang dikerjakan) manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan
(diberi ganjaran) sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat.
Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa (ganjarannya tidak terbatas),
karena sesungguhnya puasa itu (khusus) untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan
ganjaran (kebaikan) baginya”[20].
Demikian
pula sifat sabar, ganjaran pahalanya tidak terbatas, sebagaimana firman Allah
Ta’ala,
{إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ
حِسَابٍ}
“Sesungguhnya
orang-orang yang bersabar akan disempurnakan (ganjaran) pahala mereka tanpa
batas” (QS az-Zumar:10).
Imam Ibnu
Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam
ucapan beliau,“Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam (melaksanakan) ketaatan
kepada Allah, sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan sabar
(dalam menghadapi) ketentuan-ketentuan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan
(manusia). Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa,
karena (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan
kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya
bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa)
lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa”[21].
Penutup
Demikianlah
nasehat ringkas tentang keutamaan bulan Ramadhan, semoga bermanfaat bagi semua
orang muslim yang beriman kepada Allah Ta’aladan mengharapkan ridha-Nya, serta
memberi motivasi bagi mereka untuk bersemangat menyambut bulan Ramadhan yang
penuh kemuliaan dan mempersiapkan diri dalam perlombaan untuk meraih
pengampunan dan kemuliaan dari-Nya, dengan bersungguh-sungguh mengisi bulan
Ramadhan dengan ibadah-ibadah agung yang disyariatkan-Nya.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada setiap malam (di bulan Ramadhan) ada penyeru (malaikat)
yang menyerukan: Wahai orang yang menghendaki kebaikan hadapkanlah (dirimu),
dan wahai orang yang menghendaki keburukan kurangilah (keburukanmu)!”[22].
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين،
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota
Kendari, 6 Sya’ban 1431 H
Penulis:
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
[2] Lihat kitab “al-‘Ibratu fi syahrish
shaum” (hal. 5) tulisan guru kami yang mulia, syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd
al-‘Abbad – semoga Allah menjaga beliau dalam kebaikan – .
[5] HR Ahmad (2/385), an-Nasa’i (no.
2106) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam kitab
“Tamaamul minnah” (hal. 395), karena dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain.
[10] HR Ahmad (4/321), Abu Dawud (no.
796) dan Ibnu Hibban (no. 1889), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-‘Iraqi
dan syaikh al-Albani dalam kitab “Shalaatut taraawiih (hal. 119).
[11] HR Ibnu Majah (no. 1690), Ahmad
(2/373), Ibnu Khuzaimah (no. 1997) dan al-Hakim (no. 1571) dinyatakan shahih
oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim dan syaikh al-Albani.
[12] Lihat kitab “Tafsiirul Qur’anil
kariim” (2/317) tulisan syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin.
[20] HSR al-Bukhari (no. 1805) dan Muslim
(no. 1151), lafazh ini yang terdapat dalam “Shahih Muslim”.
[22] HR at-Tirmidzi (no. 682), Ibnu Majah
(no. 1642), Ibnu Khuzaimah (no. 1883) dan Ibnu Hibban (no. 3435), dinyatakan
shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar