Hikmah di Balik Puasa Ramadhan
·
19 July
2010, 4:00 pm
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat
dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Berikut
adalah beberapa hikmah di balik puasa Ramadhan yang kami sarikan dari beberapa
kalam ulama. Semoga bermanfaat.
1. Menggapai Derajat Takwa
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183). Ayat ini
menunjukkan bahwa di antara hikmah puasa adalah agar seorang hamba dapat
menggapai derajat takwa dan puasa adalah sebab meraih derajat yang mulia ini.
Hal ini dikarenakan dalam puasa, seseorang akan melaksanakan perintah Allah dan
menjauhi setiap larangan-Nya. Inilah pengertian takwa. Bentuk takwa dalam puasa
dapat kita lihat dalam berbagai hal berikut.
Pertama,
orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap yang Allah larang ketika itu yaitu
dia meninggalkan makan, minum, berjima’ dengan istri dan sebagainya yang
sebenarnya hati sangat condong dan ingin melakukannya. Ini semua dilakukan
dalam rangka taqorrub atau mendekatkan diri pada Allah dan meraih pahala
dari-Nya. Inilah bentuk takwa.
Kedua, orang
yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi
yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga
salah bentuk takwa yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah.
Ketiga,
ketika berpuasa, setiap orang akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan.
Dan ketaatan merupakan jalan untuk menggapai takwa.[1]Inilah sebagian di antara bentuk
takwa dalam amalan puasa.
2. Hikmah di Balik Meninggalkan Syahwat dan Kesenangan
Dunia
Di dalam
berpuasa, setiap muslim diperintahkan untuk meninggalkan berbagai syahwat,
makanan dan minuman. Itu semua dilakukan karena Allah. Dalam hadits qudsi[2], Allah Ta’ala berfirman,
يَدَعُ
شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى
Pertama,
dapat mengendalikan jiwa. Rasa kenyang karena banyak makan dan minum, kepuasan
ketika berhubungan dengan istri, itu semua biasanya akan membuat
seseorang lupa diri, kufur terhadap nikmat, dan menjadi lalai. Sehingga dengan
berpuasa, jiwa pun akan lebih dikendalikan.
Kedua, hati
akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk mengingat Allah. Apabila
seseorang terlalu tersibukkan dengan kesenangan duniawi dan terbuai dengan
makanan yang dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memikirkan hal-hal
yang baik dan lalai dari mengingat Allah. Oleh karena itu, apabila hati tidak
tersibukkan dengan kesenangan duniawi, juga tidak disibukkan dengan makan dan
minum ketika berpuasa, hati pun akan bercahaya, akan semakin lembut, hati pun
tidak mengeras dan akan semakin mudah untuk tafakkur (merenung) serta berdzikir
pada Allah.
Ketiga,
dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, orang yang berkecukupan
akan semakin tahu bahwa dirinya telah diberikan nikmat begitu banyak dibanding
orang-orang fakir, miskin dan yatim piatu yang sering merasakan rasa lapar.
Dalam rangka mensyukuri nikmat ini, orang-orang kaya pun gemar berbagi
dengan mereka yang tidak mampu.
Keempat,
dengan berpuasa akan mempersempit jalannya darah. Sedangkan setan berada pada
jalan darahnya manusia. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ
الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya
setan mengalir dalam diri manusia pada tempat mengalirnya darah.”[4] Jadi puasa dapat menenangkan setan
yang seringkali memberikan was-was. Puasa pun dapat menekan syahwat dan rasa
marah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan puasa sebagai salah satu
obat mujarab bagi orang yang memiliki keinginan untuk menikah namun belum
kesampaian.[5]
3. Mulai
Beranjak Menjadi Lebih Baik
Di bulan
Ramadhan tentu saja setiap muslim harus menjauhi berbagai macam maksiat agar
puasanya tidak sia-sia, juga agar tidak mendapatkan lapar dan dahaga saja. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
رُبَّ
صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa
banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut
kecuali rasa lapar dan dahaga saja.”[6]
Puasa
menjadi sia-sia seperti ini disebabkan bulan Ramadhan masih diisi pula dengan
berbagai maksiat. Padahal dalam berpuasa seharusnya setiap orang berusaha menjaga
lisannya dari rasani orang lain (baca: ghibah), dari
berbagai perkaataan maksiat, dari perkataan dusta, perbuatan maksiat dan
hal-hal yang sia-sia.
Dari Abu
Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ
يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ
يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa
yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak
butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”[7]
Dari Abu
Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ
الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ
وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي
صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa
bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan
menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang
mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku
sedang puasa”.”[8] Lagwu adalah perkataan sia-sia dan
semisalnya yang tidak berfaedah.[9] Sedangkan rofats adalah istilah
untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita[10] atau dapat pula bermakna kata-kata
kotor.[11]
Oleh karena
itu, ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya setiap insan menjadi lebih baik
dibanding dengan bulan sebelumnya karena dia sudah ditempa di madrasah Ramadhan
untuk meninggalkan berbagai macam maksiat. Orang yang dulu malas-malasan shalat
5 waktu seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan
Ramadhan. Juga dalam masalah shalat Jama’ah bagi kaum pria, hendaklah pula
dapat dirutinkan dilakukan di masjid sebagaimana rajin dilakukan ketika bulan
Ramadhan. Begitu pula dalam bulan Ramadhan banyak wanita muslimah yang berusaha
menggunakan jilbab yang menutup diri dengan sempurna, maka di luar bulan
Ramadhan seharusnya hal ini tetap dijaga.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّ
أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ
“(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh
Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.”[12]
Ibadah dan
amalan ketaatan bukanlah ibarat bunga yang mekar pada waktu tertentu saja.
Jadi, ibadah shalat 5 waktu, shalat jama’ah, shalat malam, gemar bersedekah dan
berbusana muslimah, bukanlah jadi ibadah musiman. Namun sudah seharusnya di
luar bulan Ramadhan juga tetap dijaga. Para ulama seringkali mengatakan,
“Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, -pen) hanya pada
bulan Ramadhan saja.”
Ingatlah
pula pesan dari Ka’ab, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lantas terbetik
dalam hatinya bahwa setelah lepas dari Ramadhan akan berbuat maksiat pada
Rabbnya, maka sungguh puasanya itu tertolak (tidak bernilai apa-apa).”[13]
4. Kesempatan untuk Saling Berkasih Sayang dengan Si
Miskin dan Merasakan Penderitaan Mereka
Puasa akan
menyebabkan seseorang lebih menyayangi si miskin. Karena orang yang berpuasa
pasti merasakan penderitaan lapar dalam sebagian waktunya. Keadaan ini pun ia
rasakan begitu lama. Akhirnya ia pun bersikap lemah lembut terhadap sesama dan
berbuat baik kepada mereka. Dengan sebab inilah ia mendapatkan balasan melimpah
dari sisi Allah.
Begitu pula
dengan puasa seseorang akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang
miskin, fakir, yang penuh kekurangan. Orang yang berpuasa akan merasakan lapar
dan dahaga sebagaimana yang dirasakan oleh mereka-mereka tadi. Inilah yang
menyebabkan derajatnya meningkat di sisi Allah.[14]
Inilah
beberapa hikmah syar’i yang luar biasa di balik puasa Ramadhan. Oleh karena
itu, para salaf sangatlah merindukan bertemu dengan bulan Ramadhan agar
memperoleh hikmah-hikmah yang ada di dalamnya. Sebagian ulama mengatakan, “Para salaf
biasa berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar dapat berjumpa dengan bulan
Ramadhan. Dan 6 bulan sisanya mereka berdoa agar amalan-amalan mereka diterima”.[15]
Hikmah Puasa yang Keliru
Adapun
hikmah puasa yang biasa sering dibicarakan sebagian kalangan bahwa puasa dapat
menyehatkan badan (seperti dapat menurunkan bobot tubuh, mengurangi resiko
stroke, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi resiko diabetes[16]), maka itu semua adalah hikmah
ikutan saja[17] dan bukan hikmah utama. Sehingga
hendaklah seseorang meniatkan puasanya untuk mendapatkan hikmah syar’i terlebih
dahulu dan janganlah dia berpuasa hanya untuk mengharapkan nikmat sehat semata.
Karena jika niat puasanya hanya untuk mencapai kenikmatan dan kemaslahatan
duniawi, maka pahala melimpah di sisi Allah akan sirna walaupun dia akan
mendapatkan nikmat dunia atau nikmat sehat yang dia cari-cari.
Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ
حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا
نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
“Barang siapa
yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya
dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya
sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di
akhirat.” (QS. Asy
Syuraa: 20)
Ibnu ‘Abbas
mengatakan, “Orang yang gemar berbuat riya’ akan diberi balasan kebaikan mereka
di dunia. Mereka sama sekali tidak akan dizholimi. Namun ingatlah, barangsiapa
yang melakukan amalan puasa, amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya
ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan
baginya dunia yang dia cari-cari. Akan tetapi, amalannya akan lenyap di akhirat
nanti karena mereka hanya ingin mencari keuntungan dunia. Di akhirat, mereka
juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.”[18]
Sehingga
yang benar, puasa harus dilakukan dengan niat ikhlas untuk mengharap wajah
Allah. Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah hikmah ikutan saja dari
melakukan puasa, dan bukan tujuan utama yang dicari-cari. Jika seseorang
berniat ikhlas dalam puasanya, niscaya nikmat dunia akan datang dengan
sendirinya tanpa dia cari-cari. Ingatlah selalu nasehat Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
مَنْ كَانَتِ
الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ
وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ
اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ
مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
“Barangsiapa
yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan
kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai,
dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya
adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah
merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh
kecuali yang telah ditetapkan baginya.”[19]
Adapun
hadits yang mengatakan,
صُوْمُوْا
تَصِحُّوْا
“Berpuasalah,
niscaya kalian akan sehat.” Perlu diketahui bahwa hadits semacam ini adalah hadits yang lemah
(hadits dho’if) menurut ulama pakar hadits.[20]
Semoga kita
bisa menarik hikmah berharga di balik puasa kita di bulan penuh kebaikan, bulan
Ramadhan.
[2] Hadits qudsi adalah hadits yang
maknanya dari Allah Ta’ala, lafazhnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
[19] HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al
Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadits ini dalam
Tuhfatul Ahwadzi, 7/139-140.
[20] Al Hafzih Al ‘Iroqiy dalam Takhrij
Al Ihya’ (5/453) mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thobroniy
dalam Al Awsath, Abu Nu’aim dalam Ath Thib An Nabawiy dari hadits Abu Hurairah
dengan sanad yang lemah (dho’if). Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al Hadits Adh
Dho’ifah no. 253 mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar